Cinta di Usia Lanjut Muncul dari Kayu Bakar

Cinta tidak tahu batas umur. Meskipun sudah tua tetapi cinta masih bisa tumbuh dengan sendirinya. Contohnya, hanya dua lansia ini, Mitra Wiyono (92 tahun) dan Sutinah (79) yang baru saja menikah di Kantor Urusan Agama di Kecamatan Semin, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, Jumat (28/06).

Dalam catatan pemerintah Desa Bendung, Kecamatan Semin, Mitra Wiyono atau yang sering disebut Mitro lahir pada tahun 1927 atau jika dihitung tanggal umurnya telah mencapai 92 tahun sedangkan mitranya Sutinah telah mencapai usia 79 tahun.

Menurut Kepala Seksi Kesejahteraan Masyarakat Desa Bendung, Sukirno, pasangan lansia itu berbeda dengan dusun dan memang hidup berjauhan. Pengantin laki-laki Mitro Wiyono sangat ingin menikahi Sutinah karena mereka sering bertemu.

Sukirno mengatakan bahwa dia telah mendengar dari Mitro jika cintanya muncul karena Sutinah sering meminta kayu bakar kepada Mitro.

“Kebetulan, Mbah Mitro adalah seorang tukang kayu dan Mbah Sutinah sering meminta kayu bakar darinya,” kata Sukirno, yang juga tetangga Mbah Mitro, Jumat (28/6/2019).

Beberapa waktu lalu, Mitro datang ke rumahnya. Rupanya kedatangan Mitro untuk meminta bantuannya membantu melamar wanita idamanya, Sutinah. Kebetulan, Mitro memang hidup sebatang kara.

“Mbah Mitro meminta bantuan, jadi saya berbicara dengan putra Mbah Sutinah untuk melamar Mbah Sutinah,” ucapnya.

Sutinah tinggal bersama anak angjatnya. Sehingga semua urusan Sutinah harus melewati anak angkatnya.

Sukirno mengatakan dia ragu dengan niat Mitro karena dia khawatir bahwa anak angkat Sutinah akan menolak untuk mengingat usia mereka berdua telah memasuki masa lanjut. Tetapi karena keinginan kuat Mitro, ia juga bersedia datang ke rumah Sutinah untuk melamar wanita itu.

Seperti gayung bersambut, putra angkat Sutinah mengizinkan ibunya di nikahi oleh Mitro. Rupanya cinta mereka berdua telah muncul cukup lama dan mereka juga sudah membahas niatnya sebelum Sukirno mengajukan lamarannya.

“Ya karena Mbah Mitro itu kan tetangga saya terus hidup sebatang kara. Di samping itu saya juga aparat desa sehingga saya terpanggil untuk mencarikan syarat administrasi mereka,” ujarnya.

Awalnya Mitro khawatir tentang biaya yang harus ditanggungnya ketika ia harus menikahi Sutinah. Namun, warga Widoro Lor merasa iba dan tidak tega kemudian berembuk untuk membantu membiayai pernikahan mereka.

Akhirnya pasangan duda dan janda ini mengadakan pernikahan di KUA Kecamatan Semin. Keduanya mengadakan pernikahan sederhana di KUA, terutama kerabat mereka juga mendukung untuk menikah.

“Mbah Sutinah sempat menangis karena ada warga yang bercanda kalau Mbah Mitro tak lancar mengucapkan akad nikah, nanti nikahnya gagal,” ceritanya.

Sumber : kumparan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *