HarianGunungkidul.com

Berita Online Gunungkidul Terbaru

Di Perkirakan Akhir April Memasuki Musim Kemarau

ilustrasi

Saat ini, beberapa daerah di DI Yogyakarta telah memasuki musim transisi.

Untuk musim kemarau itu sendiri, diperkirakan akan dimulai pada tiga April, atau 21- akhir April 2019.

Kepala Stasiun Klimatologi Mlati, BMKG DIY, Reni Kraningtyas menjelaskan bahwa awal musim kemarau di beberapa kabupaten / kota di DIY sendiri tidak sama.

Untuk kabupaten pertama memasuki musim kemarau pada dasarian 3 April, yaitu Gunungkidul.

Kemudian diikuti oleh 3 kabupaten / kota lain, yaitu Kulonprogo, Bantul dan Yogyakarta, yang diperkirakan memasuki musim kemarau pada dasarian 1 Mei, atau 1-10 Mei 2019.

Selanjutnya, untuk wilayah terbaru memasuki musim kemarau, yaitu wilayah Sleman, yang diperkirakan pada dasarian 2 Mei atau 11-20 Mei 2019.

“Sebagian wilayah DIY saat ini sudah ada yang memasuki pancaroba. Awal musim kemarau Gunungkidul pada April dasarian 3. Kulonprogo, Bantul dan Kota Yogyakarta umumnya Mei dasarian 1. Sedangkan untuk Sleman Mei dasarian 2. Jadi yang paling cepat memasuki awal musim kemarau adalah Gunungkidul,” katanya.

Untuk itu, Reni mengimbau masyarakat agar tetap waspada di musim transisi ini.

Sebab, potensi cuaca ekstrem, seperti hujan deras dengan durasi pendek disertai angin kencang, masih akan terjadi.

Selain itu, bagi orang-orang yang rumahnya masih pohon-pohon besar, perlu untuk merapikan cabang-cabangnya agar tidak roboh dan membahayakan keselamatan.

“Masyarakat yang sekeliling rumahnya masih banyak pohon tinggi, perlu dipotong dan dirapikan dahannya agar tidak membahayakan keselamatan jiwa. Begitu pula dengan instansi terkait, agar merapikan dahan-dahan pohon tinggi yang berada di jalan-jalan utama,” terangnya.

Sementara itu, untuk mengantisipasi musim kemarau, Sasongko, Kepala Dinas Pertanian DIY, telah mengimbau masyarakat untuk bersiap menanam hortikultura dan tanaman sekunder, terutama bagi mereka yang kekurangan air di musim kemarau.

Sedangkan untuk daerah yang masih cukup disiram, mereka masih bisa menanam padi.

“Untuk lahan yang tidak ada airnya, atau yang airnya terbatas, kita minta untuk menanam tanaman yang holtikultura dan palawija. Artinya cukup bisa ditanami padi tidak masalah. Untuk daerah yang airnya kurang di Sleman semisal Palem, Nganglik. Gunungkidul juga cukup luas, kalau tidak ada hujan, tanahnya kering. Di Bantul juga ada beberapa, seperti di Dlingo atas,” terangnya.

Selain itu, ia juga mengimbau P3A (Asosiasi Petani Pengguna Air) untuk dapat melakukan pemeliharaan jaringan irigasi di tingkat pertanian.

“Untuk sungai, dari segi pemanfaatan kita akan membina P3A untuk pemeliharaan jaringan irigasi di tingkat petani. Kalau untuk sungai besar itu ranahnya Balai Besar Wilayah Serayu-Opak (BBWSO). Untuk benih, kita juga ada bantuan ke petani, seperti jagung, padi, kedelai. Untuk sekian ratus hektar,” ungkapnya. 

sumber : tribunjogja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *