HarianGunungkidul.com

Berita Online Gunungkidul Terbaru

Kreatiff, SMP N 3 Playen Kenakan Batik Buatan Sendiri

Memicu ide kreativitas seseorang dapat dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya adalah seperti apa yang dilakukan oleh SMP N 3 Playen, di mana semua muridnya diundang untuk merancang pakaian batik mereka sendiri yang dikenakan setiap hari Rabu.

Mengunjungi sebuah sekolah yang berlokasi di Desa Bandung, Kecamatan Playen, Gunungkidul, detikcom menemukan siswa yang berpartisipasi dalam kegiatan belajar mengajar. Tidak dalam seragam putih dan biru khas sekolah menengah pertama, para siswa muncul mengenakan pakaian batik berwarna-warni dikombinasikan dengan celana kain putih.

Selain itu, pakaian batik yang dikenakan oleh siswa ternyata memiliki gaya dan warna yang berbeda. Apalagi gaya batik pada pakaian yang dikenakan oleh para siswa sepertinya tidak begitu rapi.

Agus Supriyono (56), Guru Playen dari Sekolah Menengah SMP N 3 menjelaskan, bahwa setiap hari Rabu SMP N 3 Playen memang mengharuskan siswa mengenakan pakaian batik . Ini untuk menjawab julukan Yogyakarta sebagai salah satu Kota Batik di dunia, terutama SMP N 3 Playen yang terkenal dengan kreativitasnya dalam membatik.

“Karena itu sejak tahun 2014 murid di sini (SMP N 3 Playen) wajib mengenakan baju batik di hari Rabu, dan baju batiknya harus dari hasil membatik murid itu sendiri,” ujarnya saat ditemui di SMP N 3 Playen, Desa Bandung, Kecamatan Playen, Gunungkidul, Rabu (10/4/2019).

Murid SMPN 3 Playen Gunungkidul ke sekolah pakai batik desainnya sendiri. Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom

Lelaki yang fokus mengajar seni rupa ini melanjutkan, penggunaan pakaian batik ke sekolah juga karena masuknya batik dalam kurikulum muatan lokal. Dalam hal ini, setiap siswa diwajibkan untuk membuat batik sejak duduk di kelas 7.

Menurut Agus, ini disosialisasikan kepada orang tua siswa ketika anak-anak mereka diterima di Playen Middle School 3. Selain itu, respon dari orang tua siswa menyambut baik kebijakan sekolah.

“Program membatik sudah dilakukan sejak kelas 7, sistemnya murid-murid itu membatik baju warna putih bersama-sama. Karena membatik itu lama, jadi dilakukan secara giliran dan memakan waktu 3-4 bulan,” ucapnya.

“Karena kan harus menyalakan kompor dan menunggu lilin mendidih dulu, terus lilinnya diambil pakai canting dan digoreskan ke baju warna putih, itu yang bikin lama. Apalagi kelas 7 ada 112 murid, jadi harus bergantian juga membatiknya,” imbuh Agus.

Agus mengatakan, ketika pertama kali membuat batik, sekolah menggunakan media kain 2 meter persegi dan kemudian digambar menggunakan canting. Tetapi karena prosesnya membutuhkan waktu lama dan harus menjahit lebih banyak bahan ke penjahit, akhirnya sekolah memilih teknik membuat batik pada pakaian biasa.

“Terus banyak yang kecewa karena motif yang dinginkan murid-murid hilang karena kepotongan untuk bahan jahitan baju, jadi akhirnya pakai baju polos tadi dan ternyata pengerjaannya bisa lebih cepat,” katanya.

“Untuk pewarnanya kita pakai remasol yang bisa colek dan celup, karena kalau pakai naptol harus dibuka tutup. Apalagi dengan remasol yang bisa dicolek dan dicelup membuat warna baju batik berwarna-warni,” sambung Agus.

Selain itu, penggunaan canting untuk pakaian batik polos sehingga siswa tahu bagaimana proses pembuatan batik di zaman kuno. Mengingat bahwa batik sebenarnya digambar menggunakan canting.”Karena membatik itu memakan waktu, untuk murid-murid yang baju batiknya belum jadi boleh pakai baju batik yang dimilikinya. Tapi kalau baju batiknya selesai ya wajib pakai baju batik hasil membatik itu,” ujar Agus.

Murid SMPN 3 Playen Gunungkidul ke sekolah pakai batik desainnya sendiri. Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom

Batik teknik itu sendiri dimulai dengan membuat gambar dekoratif di selembar kertas. Di mana gambar itu kemudian berubah menjadi pakaian batik, digambar menggunakan canting dan kemudian diwarnai.

“Kita ambil unsur khas Jogja yaitu batik Kawung dan dipadukan dengan kreativitas masing-masing murid untuk coraknya. Sedangkan pewarnaan baju kita ikuti warna logo sekolah, seperti warna biru, kuning, hitam dan putih,” katanya.

Murid SMPN 3 Playen Gunungkidul ke sekolah pakai batik desainnya sendiri. Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom

Agus menambahkan, untuk kegiatan membatik, semua siswa harus melakukannya di sekolah, baik selama pelajaran seni, ekstrakurikuler bahkan ketika siswa memiliki waktu luang. Itu karena batik butuh waktu lama.

“Semuanya (baju batik yang dikenakan murid) dibuat di sekolah, bisa pas jam (pelajaran) seni budaya, pas libur hari Sabtu juga boleh, biasanya murid-murid nanti hubungi saya kalau mau membatik,” katanya.

Agus menjelaskan bahwa biaya batik itu sendiri berasal dari kontribusi siswa dan 20% menggunakan dana BOS. Menurutnya, perincian ini telah disebutkan dalam surat edaran yang ditujukan kepada orang tua siswa.

“Cost (biaya) katakanlah Rp 110 ribu dan sekolah membantu 20 persen lewat BOS. Biaya itu dari iuran perkelas. Mereka (murid-murid) juga boleh bawa baju polos warna putih, lilin malam dan peralatan membatik dan kalau keterbatasan alat kami sediakan,” katanya.

“Selama punya kreativitas peralatan membatik tidak jadi masalah dan kami bantu. Jadi prinsipnya asal murid senang kan kreativitasnya jadi muncul untuk membatik, dan itu salah satu tujuan kami mewajibkan murid untuk membatik baju batik yang dikenakan setiap hari Rabu,” imbuhnya.

Salah satu siswa kelas tujuh, Iftitah Ananda (13) mengatakan bahwa dia tidak tahu aturan yang mengharuskan setiap siswa Playen 3 SMP untuk membuat pakaian batik mereka sendiri yang dikenakan setiap hari Rabu. Apalagi dia tidak tahu cara membuat batik.

“Sebelum masuk ke sini (SMP N 3 Playen) saya belum tahu caranya membatik, terus diajari itu dan akhirnya mulai bisa buat sendiri desainnya dan membatik di baju untuk seragam hari Rabu ini,” katanya.

“Jadi ya seneng aja bisa membatik dan pakai baju batik buatan sendiri,” imbuh Ananda.

Warga Desa Gari, Kecamatan Wonosari melanjutkan, bahwa proses membatik memang lama. Tetapi karena dilakukan bersama proses batik menjadi menyenangkan.

“Kalau saya yang buat baju batik ini 3 mingguan, seminggu menggambar, seminggu mencanting lilin malam ke baju polos dan seminggu mewarnai,” pungkasnya.

Sumber : detikcom

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *